Kamis, 11 Maret 2010

Fiorentina & Milan Tersingkir, Koefisien Italia Hancur

Serie A Italia terancam kehilangan tiket keempat di Liga Champions 2011/12.

Begini situasinya...

Seria A Italia menyisakan dua klub di kancah antarklub Eropa musim ini: Inter Milan di Liga Champions dan Juventus di Liga Europa. Lima klub lainnya sudah tersingkir, masing-masing Fiorentina dan AC Milan dari Liga Champions, serta AS Roma, Genoa dan Lazio dari Liga Europa.

Tahun lalu, Roma kalah adu penalti melawan Arsenal di babak 16 besar. Demikian pula Juventus dan Inter dikandaskan oleh klub-klub Inggris.

Dalam lima tahun terakhir, hanya AC Milan di bawah asuhan Carlo Ancelotti yang sukses membawa prestasi bagi klub-klub Italia di level internasional: juara 2007, runner-up 2005 dan semi-finalis 2006. Selain itu, klub Serie A melempem. Bahkan di Piala UEFA tahun lalu, Udinese terhenti di babak 32 besar. Dua tahun lalu, Palermo dan Empoli gagal melewati babak pertama, sedangkan Fiorentina menembus semi-final. Klub terakhir Italia yang menjuarai kompetisi kedua di Eropa adalah Parma. Kapan? Lebih dari satu dasawarsa lalu, tepatnya pada tahun 1999. Sejak itu, klub-klub Italia selalu absen di final Piala UEFA, yang kini sudah berlabel Liga Europa.

Akibatnya, ranking Italia di antarklub UEFA masih di peringkat ketiga setelah Inggris dan Spanyol. Tapi koefisien Serie A semakin tersusul oleh Bundesliga Jerman di urutan keempat. Artinya, jatah keempat Serie A Italia di Liga Champions terancam hilang ke tangan klub Jerman.

Daftar ranking dan koefisien UEFA pada tahun 2004:
  1. Spanyol (79,851 poin)
  2. Inggris (62,153)
  3. Italia (59,186)
  4. Jerman (49,489 -- atau terpaut 9,697 poin dari Italia)
Waktu terus berlalu...


Dan inilah daftar ranking dan koefisien UEFA yang berlaku sekarang, 11 Maret 2010, setelah Fiorentina dan AC Milan terdepak dari Liga Champions, sementara Bayern München melenggang ke perempat-final:
  1. Inggris (78,570 poin)
  2. Spanyol (76,186)
  3. Italia (62,195)
  4. Jerman (60,374 -- atau terpaut 1,821 poin dari Italia)
>> Bingung tentang koefisien UEFA?

Baca dulu penjelasan singkat tentang koefisien UEFA di sini

Hilangnya selisih koefisien antara Italia dan Jerman terjadi dalam kurun waktu lima tahun belakangan ini. Melihat tren yang berlaku sekarang, grafik ini menunjukkan pergeseran ranking dalam satu tahun ke depan.

Koefisien UEFA
GRAFIK | Tren ranking dan koefisien UEFA untuk tahun 2011

Jadi jelas, kemajuan klub-klub Bundesliga di Liga Champions maupun Liga Europa akan menggeser posisi Serie A dari peringkat ketiga ranking UEFA. Kekalahan klub Serie A (Fiorentina) dari klub Bundesliga (Bayern München) sangat membantu terjadinya pergeseran tersebut.

Kenapa Bundesliga bisa mengejar Serie A? Perlahan tapi pasti, klub-klub Jerman meningkatkan koefisien mereka dalam daftar ranking UEFA.
  • Werder Bremen mencapai final Piala UEFA tahun lalu.
  • Werder Bremen menembus 16 besar di musim 2005/06, sedangkan Schalke 04 mencapai semi-final. Prestasi itu diikuti oleh Schalke 04 yang terhenti di babak perempat-final musim 2007/08, tapi setidaknya Bayern München sukses menjadi semi-finalis di tahun yang sama.
  • Bayern München dan VfB Stuttgart masih berkompetisi di Liga Champions musim ini. Wolfsburg, Hamburg, dan Werder Bremen masih bersaing di Liga Europa. Dari enam klub Jerman, hanya Hertha Berlin yang sudah tersisih dari kancah Eropa.
Untuk musim ini saja, Bundesliga menghasilkan rata-rata 14,25 poin melalui enam klub, dan Serie A rata-rata 13,285 poin dari tujuh klub.

Tapi jangan lupa, ranking UEFA menghitung prestasi klub selama lima tahun terakhir. Artinya, pada akhir musim ini, koefisien 2004/05 akan dimusnahkan.

Liga 2004/05 2005/06 2006/07 2007/08 2008/09 2009/10 Koef.
Italia (14,00) 15,36 11,93 10,25 11,38 13,285 (62,91) 62,195
Jerman (10,57) 10,44 9,50 13,50 12,69 14,25 (56,70) 60,374

Jumlah poin di atas masih bisa bertambah, mengingat kompetisi antarklub Eropa masih di tahap 16 besar.

Bagaimana menyelematkan koefisien Serie A Italia dari keterpurukan? Mau tidak mau, hanya dua skenario yang bisa dihadapi:
  • Inter juara Liga Champions musim ini.
  • Juventus juara Liga Europa musim ini.
Sekaligus berharap klub-klub Jerman tersingkir satu-per-satu sedini mungkin. Kalau tidak, Bundesliga Jerman sudah pasti mengantongi satu tiket tambahan di musim 2011/12 -- menjadi empat jatah Liga Champions plus tiga jatah Liga Europa. Sementara Serie A Italia hanya kebagian enam klub dengan porsi 3 + 3.

(source: goal.com)


Selengkapnya...

Tentang Koefisien UEFA

Anda bingung tentang koefisien UEFA dan penasaran tentang cara menghitung koefisien ??? Check it here !

Apa itu koefisien UEFA?

Sebuah statistik yang dipergunakan untuk ranking tim di level antarklub maupun antarnegara.

Siapa yang menghitung koefisien ini?

Tugas menghitung koefisien adalah UEFA sendiri, sebagai otoritas yang resmi untuk sepakbola Eropa. Koefisien ini terbagi tiga jenis:

  1. Koefisien untuk tim nasional di Eropa.
  2. Koefisien untuk liga-liga Eropa.
  3. Koefisien untuk klub-klub sepakbola di Eropa.
Apa saja kegunaan koefisien ini?



Untuk koefisien timnas, UEFA bisa menentukan timnas mana yang masuk ke pot tim-tim unggulan untuk undian babak kualifikasi hingga putaran final Euro. Dengan menerapkan koefisien UEFA dalam sebuah drawing, tim-tim besar akan saling menghindar di babak kualifikasi. Namun untuk Piala Dunia, koefisien UEFA tidak lagi berlaku, melainkan ranking FIFA.

Sedangkan untuk liga dan klub, koefisien UEFA akan bermanfaat untuk menentukan jumlah tim yang bisa diikutkan ke Liga Champions dan Liga Europa, dan juga untuk tujuan drawing sebagaimana halnya koefisien timnas.

Bagaimana cara menghitung koefisien timnas?

Sebelum Euro 2008, koefisien ini hanya ditentukan melalui hasil yang diraup timnas. Caranya dengan membagikan total perolehan poin yang diraih (tiga poin untuk kemenangan, satu untuk hasil seri) dengan jumlah pertandingan yang dimainkan dalam dua babak kualifikasi dari Piala Dunia atau Piala Eropa. Hasil dari babak play-off tidak dianggap. Untuk beberapa tim, hanya satu babak kualifikasi yang dianggap, apabila mereka tuan rumah dalam satu dari dua turnamen terakhir.

Metode seperti ini diubah usai Euro 2008, di mana sebuah tim memperoleh poin dari setiap pertandingan dalam lima kualifikasi turnamen terakhir atau putaran final Piala Dunia atau Piala Eropa.
  1. 10.000 poin diberikan untuk setiap pertandingan yang dimainkan.
  2. Diberikan tambahan 30.000 poin untuk setiap kemenangan, 20.000 poin untuk kemenangan melalui adu penalti, dan 10.000 poin untuk hasil seri atau kalah adu penalti.
  3. Tambahan poin yang berkisar dari 6.000 hingga 38.000 diberikan untuk babak play-off atau putaran final.
  4. Setiap gol yang dicetak, 501 poin diberikan, dan 500 poin berkurang untuk setiap gol kemasukan.
  5. Jumlah poin dari semua hasil di atas dibagikan dengan jumlah pertandingan yang dimainkan timnas bersangkutan.
  6. Rumusnya sedikit berbeda untuk negara tuan rumah yang tidak mengikuti babak kualifikasi.
  7. Turnamen yang lebih baru bobotnya dua kali lebih tinggi dengan turnamen yang paling lama.
Dengan demikian, pada akhir tahun 2009, Spanyol berada dalam ranking teratas dengan 39.964 poin setelah menjuarai Euro 2008. Jerman sebagai runner-up di urutan kedua dengan 38.294 poin, kemudian Belanda (37.821), Italia (35.838) dan Inggris (34.819) melengkapi daftar lima besar. Selanjutnya ada Kroasia, Portugal, Prancis, Rusia dan Yunani di peringkat 6-10 secara berurutan.

Lalu bagaimana penghitungan koefisien liga?

Koefisien ini digunakan untuk tujuan ranking liga-liga Eropa, sekaligus menentukan jumlah klub yang berpartisipasi di Liga Champions dan Liga Europa. Ranking di tahun 2010 menentukan jumlah peserta Liga Champions dan Liga Europa di musim 2011/12, bukan untuk musim 2010/11.

Koefisien liga menghitung hasil-hasil yang diraih klub dalam liga bersangkutan di Liga Champions dan Liga Europa dari lima musim terakhir.

Jumlah poin yang diberikan pada setiap musim (dua poin untuk setiap kemenangan dan satu untuk setiap hasil seri) dibagikan dengan jumlah tim yang berpartisipasi dari negara bersangkutan pada musim itu. Perolehan poin dari lima musim terakhir dijumlahkan untuk mendapatkan koefisien liga.

Untuk babak-babak awal di Liga Champions dan Liga Europa, jumlah poin yang diperoleh klub-klub dari liga bersangkutan dibagi dua, dan diberikan poin bonus untuk:
  • Lolos ke babak grup Liga Champions = 4 poin tambahan
  • Lolos ke babak 16 besar Liga Champions = 5 poin tambahan
  • Lolos ke babak perempat-final, semi-final dan final Liga Champions dan Liga Europa = masing-masing 1 poin tambahan
Poin bonus di atas ditambahkan ke total poin yang diraih dalam satu musim.

Kemudian untuk menghitung koefisien klub?

Koefisien klub ditentukan melalui hasil-hasil yang diraih klub di Liga Champions dan Liga Europa selama lima musim terakhir. Koefisien ini mencakup 33 persen koefisien liga ditambah jumlah poin yang diraih klub selama lima musim terakhir.

Klub meraih dua poin untuk setiap kemenangan dan satu poin untuk hasil seri. Partisipasi di babak grup mendapat empat poin. Kemudian untuk setiap babak gugur yang dicapai di Liga Champions, atau perempat-final dan seterusnya di Liga Europa, diberikan tambahan satu poin.

Untuk ranking tim, hasil di babak kualifikasi tidak dianggap, dan mengikuti sistem perolehan poin sebagai berikut:


Liga Champions Liga Europa
Babak 1 0.50
0.25
Babak 2 1.00 0.50
Babak 3 - 1.00
Babak 4 - 1.50
Babak Grup
- 2.00
Keterangan:

Poin kualifikasi di atas tidak diakumulasikan. Babak ketiga dan keempat kualifikasi Liga Champions tidak ada perolehan poin karena tim yang kalah akan masuk babak berikutnya di Liga Europa. Klub yang lolos ke babak grup Liga Champions sudah diberikan poin bonus (lihat di atas). Dua poin di babak grup Liga Europa adalah sebuah minimum dan tidak akan ditambahkan ke jumlah poin yang diraih pada babak grup. Kesimpulannya, semua tim yang berpartisipasi setidaknya mendapat poin di babak kualifikasi atau poin bonus.

Ranking klub UEFA adalah jumlah lima koefisien dalam lima tahun terakhir. Daftar ranking ini digunakan untuk tujuan undian babak grup Liga Champions dan Liga Europa.

Seperti apakah rumus koefisien UEFA?

Perhatikan rumus ini untuk koefisien timnas:

ccoef = rounddown(cpoints/cteams, 3)
crank = sum(ccoef);

Rumus koefisien klub:
  • Sejak 2009:
tcoef = 0.20 * rounddown(cpoints/cteams, 3) + tpoints
trank = rounddown(sum(tcoef) , 3)

  • Dari 2004 hingga 2008:
tcoef = 0.5 * rounddown( 0.33 * (2*cpoints/cteams), 3) + tpoints
trank = rounddown(sum(tcoef) , 3)


Keterangan:

ccoef = koefisien negara per tahun
rounddown = pemotongan tiga desimal
tpoints = jumlah poin per tim
cpoints = jumlah tpoints per negara
cteams = jumlah tim per negara
crank = ranking negara sepanjang lima tahun terakhir
ccoef = koefisien negara per tahun
sum = jumlah sepanjang lima tahun terakhir
tmatches = jumlah pertandingan per tim
crank = ranking negara sepanjang lima tahun terakhir
tcoef = koefisien tim per tahun
trank = ranking tim sepanjang lima tahun terakhir

Masih bingung. Bagaimana contoh perhitungannya?

Sebagai contoh, kita ambil perhitungan untuk Inter Milan yang masih bersaing di Liga Champions 2009/10. Selain Inter, masih ada satu klub lainnya dari Italia (hingga 11 Maret 2010) yang bersaing di Eropa, yakni Juventus di Liga Europa 2009/10.
  • Poin Pertandingan Inter Milan
    • Dari tujuh pertandingan, Inter Milan menang tiga kali, imbang tiga kali dan kalah sekali. Berdasarkan keterangan di atas, berarti poin pertandingan Inter: (3 x 2) + (3 x 1) = 9 poin pertandingan
  • Bonus Inter Milan
    • Lolos ke babak grup = 4 poin
    • Lolos ke 16 besar = 5 poin
    • Total bonus = 9 poin
  • Total Fiorentina (tpoints) = 9 + 9 = 18 poin

  • Poin Pertandingan Juventus
    • Dari delapan pertandingan, Juventus menang tiga kali, imbang tiga kali dan kalah dua kali. Berdasarkan keterangan di atas, berarti poin pertandingan Juve: (3 x 2) + (3 x 1) = 9 poin pertandingan
  • Bonus Juventus
    • Partisipasi di babak grup Liga Champions = 4 poin
    • Total bonus = 4 poin
  • Total Juventus (tpoints) = 9 + 4 = 13 poin

cpoints = jumlah tpoints per negara:
  1. Fiorentina = 22 (tersingkir dari Liga Champions)
  2. Inter Milan = 18 (sementara hingga 11 Maret 2010)
  3. AC Milan = 16 (tersingkir dari Liga Champions)
  4. Juventus = 13 (sementara hingga 11 Maret 2010)
  5. AS Roma = 12,5 (tersingkir dari Liga Europa)
  6. Genoa = 6,5 (tersingkir dari Liga Europa)
  7. Lazio = 5 (tersingkir dari Liga Europa)
Total poin negara (cpoints) = 93
cteams = jumlah tim per negara = 7

Koefisien Inter Milan

tcoef = 0.20 * rounddown(cpoints/cteams, 3) + tpoints
tcoef = 0.20 * (93/7) + 21
tcoef = 23,657 setelah pembulatan tiga desimal

Koefisien Juventus

tcoef = 0.20 * rounddown(cpoints/cteams, 3) + tpoints
tcoef = 0.20 * (93/7) + 13
tcoef = 15,657 setelah pembulatan tiga desimal

Kesimpulannya:
Apabila Inter dan Juventus bisa lolos ke babak berikutnya, berarti total poin negara (cpoints) ikut bertambah, sekaligus pula koefisien klub Italia yang sudah tersingkir.


(source: goal.com)
Selengkapnya...

Rabu, 10 Maret 2010

Who Am I ???

hy all.
hha.

stelah skian lama ane melanglang buana di Blog ini, ane merasa bahwa ane melupakan suatu hal yg sangat penting yaitu memperkenalkan diri ane sendiri.

hha.
cause dimana-mana orang introduce kan diawal, eh, ane malah ditengah-tengah gan.
wkwkwk.

back to topic.
kyaknya langsung aj y tentang ane...


My Profile

Fullname: Febryansyah Aminullah Lubis
Nickname (Reality): Feby
Nickname (Web): FeBy23, Shinichi Kuda, demotion_chaos
Birth: February 1, 1995
Status: Student
Class: XI PSIA 6 (Acceleration)
Address: Cambai Agung 16, Palembang
Religion: Moslem 100%
Hobby: Browsing Internet, Playing Video Games

Contact Person

e-mail: demotion_chaos@yahoo.co.id
Facebook: FeBy A. Lubis
Plurk: FeBy79
Twitter: FeBy23
Yahoo Messenger: demotion_chaos
Skype: coming soon.

hha.
sekian aja deh.
for further information just contact me.
ok ?


Selengkapnya...

Sepuluh Tendangan Penalti Paling Bersejarah

10) Diana Ross - Amerika Serikat 1994 - Acara Pembukaan



Yup, divanya bintang pop Amerika Serikat itu ikut unjuk gigi dalam menunjukkan kemampuannya menendang adu penalti. Ingin tahu proses yang terjadi? Lihat saja sendiri.

9) Stuart Pearce - Inggris - Spanyol - Piala Eropa 1996



Dia maju menjadi eksekutor setelah bayang-bayang kegagalan mengambil penalti di Piala Dunia Italia 1990 masih membekas jelas di benaknya. Di momentum tersebut dia berhasil memaksimalkan peluang yang dimilikinya, dan melakukan selebrasi bak seorang dukun yang sedang mengusir roh jahat yang membuatnya gagal mengeksekusi penalti enam tahun sebelumnya. Sukses penalti Pearce berlanjut di semi-final, saat Inggris menghadapi Jerman.

8) Pavol Durica OG - Fehervar - Debrecen - 2008



Gol ini terbilang aneh. Pada ajang Piala Hongaria Fehervar mendapat sanksi penalti. Kiper sebenarnya sudah bertindak bagus dengan menyelamatkan bola yang ditendang pemain lawan, namun tetap kebobolan menyusul tendangan spektakuler Pavol Durica ke gawangnya sendiri. Sepertinya, bek Fehervar itu hendak menyapu bola menjauh dari gawangnya, namun niatnya tak kesampaian dan malah merugikan timnya sendiri. Beberapa waktu kemudian, kontraknya diputus oleh pihak klub.

7) Eric Cantona - Manchester United - Arsenal - 1993



David Seaman benar-benar ditipu dan dipermalukan Cantona di pertandingan ini, saat kedua tim mereka bertemu di ajang charity shield.

6) Robert Pires & Thierry Henry - Arsenal - Man City - 2006



Mencoba mengimitasi gaya Johan Cruyff, yaitu dengan 'menyambung' bla tendangan penalti Pires untuk diteruskan Henry. Kabarnya, Danny Mills sangat marah dengan aksi penalti itu.

5) Diego Maradona - Argentina - Italia - Piala Dunia 1990



Sebelum pertandingan di antara kedua tim, Maradona melaukan provokasi dengan meminta fans Napoli di Naples untuk lebih mendukung Argentina ketimbang Italia di Piala Dunia. Hal itu tidak terjadi, dan Maradona membuat segalanya menjadi lebih buruk bagi Italia dengan tendangan penaltinya.

4) Fan Nekat Rusia - FC Saturn - Spartak Moskwa - 2009



Lucu, seorang fans masuk ke lapangan dan mengambil penalti yang harusnya ditendang Alex, dan GOL.

3) Zinedine Zidane - Prancis - Italia - 2006



Gianluigi Buffon dikecoh oleh maestro Prancis itu. Gol penaltinya pun sangat berkelas, dengan menchip dan memasukkan bola dengan tempo lambat. Gol tersebut sudah membuat kiper Italia itu mati langkah.

2) Johan Cruyff - Ajax - Helmond Sport - 1982



Gol Johan Cruyff itu kabarnya ada unsur eksperimennya, yang kemudian ditiru oleh Pires dan Henry beberapa tahun lalu.

1) Antonin Panenka - Cekoslovakia - Jerman Barat - 1976



Anda harus melihatnya sendiri, dan mengomentarinya. Gol tersebut sangat luar biasa, brilian dan sensasional.

(source: goal.com)


Selengkapnya...

Manajer SFC Diminta Mundur

Desakan publik agar manajer SFC Hendri Zainudin mundur dari jabatan kian santer bergulir di kalangan pencinta SFC. Hal ini terjadi, seiring dengan kekalahan memalukan di kandang pada laga lanjutan Superliga 2009/10 atas Bontang FC 2-1 beberapa hari lalu.

Dipermalukan Bontang FC, memang menjadi catatan buruk bagi Sriwijaya FC musim ini. Maklum saja karena tim besutan pelatih Fahri Husaeni itu berhasil memecahkan rekor tak terkalahkan Laskar Wong Kito di kandang, sejak terakhir kali dikalahkan Persija Jakarta pada musim kompetisi 2008/09.

Meski pun isu ini terlontar setiap SFC menuai hasil negatif, tapi bagi Hendri hal tersebut patut diseriusi, mengingat wacana melengserkan dirinya dari kursi manajemen SFC pertama kali digulirkan DPRD Sumsel.

"DPRD Sumsel bicara akan merombak manajemen. Saya tahu, ucapan mereka mengarah kepada saya, kenapa tidak sebut nama saja bahwa posisi manajer yang akan dirombak," kata Hendri di Selasa (9/3) di Palembang.

Ditambahkan Hendri, DPRD tidak dapat serta merta berbuat demikian, mengingat manajemen SFC memiliki mekanisme sendiri.

"Bagi saya tidak masalah diganti, tapi lihat dulu hasil kami di akhir kompetisi. Jika terbukti gagal, saya pun sadar diri. Tapi, sekarang kan sedang jalan, biarkan kami bekerja dulu," tambah pria yang juga anggota DPRD Kabupaten Banyuasin ini.

Kehadiran Hendri dalam jajaran manajemen SFC, dipandang tak dapat menggantikan figur manajer lama MC Baryadi, yang berhasil mengantarkan tim kebanggaan warga Palembang dan Sumsel ini meraih dua gelar juara sekaligus di musim kompetisi 2007/08.

Kurangnya apresiasi terhadap kinerja Hendri, terlihat jelas disetiap laga kandang SFC yang digelar di Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring. Setiap kali namanya disebutkan saat pembacaan line up pemain, teriakan huu.. dari penonton selalu terdengar.

"Saya yakin teriakan "huuu" itu akan hilang dengan sendirinya. Yang terpenting buat saya adalah bagaimana membawa tim ini mencapai target double winner, kondusif dan gaji tidak terlambat. Saya tidak mau konsentrasi terpecah oleh masalah itu," ucap dia.

Manajemen SFC dijadwalkan bertemu dengan anggota DPRD Sumsel pada 17 Maret 2010, untuk memberikan penjelasan prihal kinerja manajemen tim yang dikomandoi PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), selaku pengelola tim Sriwijaya FC.

(source: goal.com)

Selengkapnya...